Monday, 20 March 2017

Angkutan Konvensional vs Angkutan Online

Hallo blogger!!
udah lama ga bersua disini.
postingan ku kali ini lagi lagi cerita ku seputar transportasi umum
hehehe aku junga bingung kenapa cerita ku selalu seputar transportasi umum.

kegiatanku diluar rumah hari ini dimulai pukul 11 siang.
destinasi pertamaku Bank. mama meminta bantuanku membayar tagihan internet.
aku merupakan tipe orang yang suka ngepas-pasin waktu.
walau jatohnya lebih sering jadi terlambat karena mepet.
jadi, aku berangkat jam 11 karena perhitunganku nanti aku sampai kampus tepat waktu.
jadwal kuliahku hari ini pukul 13.30 WIB mata kuliah silvikultur lahan bekas tambang.
oke, selesai dari bank jam 12an. perhitungan masih tepat.
banknya berlokasi di gaplek. rute selanjutnya parung.
aku tiba di parung jam 12.30 WIB. perhitungan masih tepat.
perjalanan menuju kampusku bisa ditempuh selama 1 jam dengan angkutan kota.

Namun...
perhitungan mulai melenceng disini.
Ternyata angkutan kota tidak beroprasi.
Awalnya aku gak tau. Aku baru menyadari ketika sudah menunggu sekitar 5-10 menit.
Memang aku sudah mulai curiga melihat banyak orang-orang dipinggir jalan entah menunggu apa.
bahkan anak-anak sekolah banyak yang berjalan kaki.
Hingga akhirnya aku bertanya pada bapak disebelahku yang juga sedang menunggu sesuatu di pinggir jalan.
"Pak, gak ada angkutan ya pak?"
"Iya, pada mogok"
Lalu orang dengan motor menyambar obrolan,
"Iya neng pada mogok sampe besok, emang neng mau kemana?"
"Ke daerah yasmin pak"
"Wah sama kaya bapak ini, naik ojek aja neng, yuk"
Bapak itu dengan penuh semangat menawarkan diri.
Jelas aku gamau.. karena jelas harganya akan jauh lebih mahal dari ongkosku biasanya.
Aku lama terdiam.
Ku putuskan membeli pulsa dan menghubungi mama.
Aku juga line ade, meminta bantuan anter ke kampus dengan vespanya.
Tapi vespanya lagi rusak.
Hmmm banget.
Akhirnya ku putuskan memesan ojek online.
Harganya lumayan banget sih. Tapi memang lebih mending dari pada ojek pangkalan.
-
-
Jadi gini blogger, mogoknya para supir angkutan kota dan bus kota itu disebabkan semakin berkurangnya sewa, yang mereka duga karena semakin banyaknya sewa beralih ke transportasi online.
Aku sendiri belum dapat memastikan sih dugaan mereka benar atau nggak.
Tapi berdasarkan apa yang aku liat dari orang-orang disekitarku, memang mereka lebih banyak memilih transportasi online dengan pertimbangan kenyamanan, kecepatan dan promo-promo harga yang ditawarkan.
-
-
Balik lagi ke kisahku, karena alasan mogok yang demikian, maka para pengemudi ojek online beroprasi tanpa menggunakan atribut.
Saat itu ramai ojek pangkalan dimana mana, aku sempat kebingungan dan agak sedikit khawatir ada kerusuhan jika aku ketauan naik ojek online.
Tapi akhirnya aku bertemu dengan ojek pesananku.
Ojekku melaju, sangat membantuku mengejar keterlambatanku menuju kampus.
Bapak itu baik, pengertian. Maaf ya pak saya gak kasih uang tip. Tapi saya kasih doa.
-
-
Mengamati kejadian hari ini, berbagai komentar bermunculan dibenakku.
Begini hasil pemikiranku :
1. Demo atau mogok narik ini aku rasa tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Aku tidak yakin pemerintah memahami apa sesungguhnya akar permasalahan karena sebagian besar dari mereka tidak terjun langsung turut merasakan. (Heh Fildzah, optimis). Aku yakin pemerintah mampu memahami permasalahan yang terjadi dan memberi solusi agar segala pihak (khususnya pengemudi angkutan online dan pengemudi angkutan konvensional) dapat tetap menjalankan profesinya.
2. Kalo aku pikir-pikir demo ini justru menguntungkan pihak pengemudi online. Sayang banget para pengemudi konvensional tidak beroprasi. Padahal masih ada aku dan pelanggan lain yang membutuhkan.
3. Dari kejadian ini aku mulai menganalisa permasalahan.
Mengapa ini terjadi?
Oh karena sewa mereka berkurang

Apa pengaruh berkurangnya sewa kepada mereka?
Oh pendapatan mereka berkurang, sedang biaya hidup meningkat. Sebagai pengemudi konvensional aku melihat banyak uang yang mereka keluarkan. Selain bensin dan biaya makan minum, ada biaya yang mereka berikan kepada kenek atau orang yang membantu mengumpulkan sewa, ada biaya rutin yang mereka berikan kepada orang dipinggir jalan (entah itu berseragam atau bukan), ada biaya setoran kepada pemilik mobil.

Bagaimana cara mengatasi ini?
Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan.
Hal yang perlu diperbaiki yaitu seputar keuangan. Pemerintah bersama organda atau pengelola angkutan lain dan ahli keuangan perlu berunding seputar keuangan. Mungkin bisa dengan cara mengurangi jumlah uang yang harus disetorkan, memfasilitasi para pengemudi angkutan biaya kesehatan dan pendidikan anak. Memberi jadwal operasi angkutan, jadi tidak setiap hari semua angkutan beroprasi, agar setiap pengemudi bisa mendapat penghasilan maksimal setiap harinya, mengingat kegiatanku berada sekitaran Bogor, yang merupakan daerah padat angkutan.

Lalu Hal yang perlu ditingkatkan yaitu pelayanan. Pelayanan angkutan konvensional perlu ditingkatkan agar memberi kenyamanan kepada sewa. Penyuluhan, atau trainning seputar pelayanan aku rasa perlu, Pemerintah dapat bekerja sama kepada pihak trainner atau psikolog dalam hal ini. Pengemudi perlu dibekali ilmu bagaimana memberi pelayanan yang baik, sehingga menyadari pentingnya pelayanan yang baik. Mulai dari tutur kata, raut muka, simpati, sampai rasa syukur perlu terus ditanamkan. Sehingga sewa nyaman, dan merasa aman. Hal-hal baikpun menular.

Wednesday, 21 September 2016

Beginikah trauma?

Pagi ini perasaanku tidak enak.
Awalnya aku pikir karena bawaan badanku.
Aku berangkat cukup siang hari ini. Jam 8 lewat.
Rutinitas sawangan-pondok gede.
Akhir akhir ini ada sedikit masalah dengan kondisi badanku.
Yang sekaligus menumbuhkan suatu dilema dalam diriku.
Oke lanjut yah..
Seperti biasa, aku naik angkot menuju ciputat, lalu disambung naik bus kota.
Perjalanan menuju ciputat lancar.
Setibanya aku diciputat dan naik bus kota, perjalanan terhambat. Macet.
Aku masih mengira dengan penuh harap kemacetan usai di UIN.
Ternyata kerumunan mobil dan motor masih padat berbaris melewati UIN.
Sungguh perasaanku kala itu sangat teramat berbelit emosi.
Aku kesal dengan keadaan dan kesal dengan aku (Jika kalian membaca dari awal kalian akan mengerti).
2 jam lebih aku baru sampai pasar jumat.
Rasanya aku mau pulang ke rumah.
Namun ku urungkan, sesuai hasil perdebatan pemikiran di otakku.
Aku tiba dilokasi jam set12. Telat 1 jam set dari jadwal. Aku tidak di setrap atau dicaci.
Tapi aku menyetrap diriku sendiri. "Fildzah kamu belom disiplin."
Jam kerja selesai jam 1.
Diluar hujan.
Tidak bawa payung maupun jas hujan.
Aku menunggu hujan. Tanpa kesal.
Ketika hujan cukup reda, aku berjalan mencari angkutan.
Ya sedikit kebasahan.
Aku menaiki 2 kali angkot 1 kali bus kota 1 kali angkot lagi.
Seturunnya aku dibus kota.
Aku tersadar aku kecopetan.
Kronologisnya lain kali aku ceritakan.
Perasaanku campur aduk saat ini.
Aku sempat gemetar lemas saat itu.
Dompetku hpku aman. Tapi tempat pensil jahitku hilang.
Walau nominal masih relatif sedikit, perasaan ini..
Traumakah? (Bertanya sendiri)