Friday, 20 October 2017

Berpikir baik dan buruk

Pernah gak sih kalian takut dengan apa yang kalian ucapkan itu akan terjadi?
atau malah berkebalikan dengan apa yang kalian ucapkan.


Aku sempat dihadapi oleh situasi dimana,
Kata kataku yang selalu positif, sudut pandangku yang aku arahkan ke arah positif,
menjadi sesuatu dilema, karena aku dihadapi oleh keadaan yang sulit.
Dalam hal ini, sebagai sudut padang pembaca, mungkin kalian bertanya-tanya apa sih yang aku hadapi.
Sebenernya bisa dikatakan ini hal sepele.
Tapi aku merasa ini sulit karena aku masih terus mengalaminya.
Entah karena belum menemukan solusi yang tepat.
Atau sesungguhnya aku belum menjawab.

Seperti, aku mengutarakan empatiku dalam kata-kata.
Mungkin ada orang yang dari situ menilai aku berempati tinggi.
Lalu, aku melihat diriku, aku menyadari dalam beberapa hal aku merupakan orang yang tidak terlalu refleks, respect dan respons.
Akupun berpikir, apa empatiku harus diasah terus,
atau aku perlu berhenti mengutarakan apa yang aku alami?

Aku yang berkata membeli jualan pedagang konvensional tidak membuat jatuh miskin, atau membuat yang menjual jadi kaya raya melebihi pembeli.
Disini aku pribadi belum sepenuhnya mudah membantu atau membeli sesuatu.
Aku berkata begitu karena aku berpikir, mengapa perlu saling membantu, apa dampaknya.

Pada hari yang sama mama bercerita,
"Mama kepikiran, mama nolak naik ojek berangkat dan pulang tadi, mama gaenak deh, mama kepikiran omonganmu, membantu tidak membuat jatuh miskin atau membuat mereka kaya raya melebihi kamu, tapi mama sudah nolak, masa balik lagi"
Lalu aku diam sebentar dan menanggapi,
"Kadang memang dalam membantu ada sesuatu dorongan, krentek, yang menggerakkan".
Dan mama setuju, "Iya, abis itu mama berpikir juga, rejeki Allah yang ngatur, kita tidak perlu memikirkan itu. Akhirnya mama doain aja semoga rejekinya banyak"

Dari situ aku mulai belajar.
Aku perlu memupuk rasa empati itu. Empati terkait dengan hati. Ketika hatiku berbisik kebaikan, sudah sepatutnya aku ikuti. Karena aku mempercayai kebaikan harus diikuti dan aku mempercayai ada alasan kenapa manusia diberikan hati. Namun yang lebih perlu aku benahi yaitu, tidak menyesali atau memikirkan akan menjadi baik atau burukkah yang sudah terjadi. Berdoa saja,

Bagaimana menurutmu?

Monday, 16 October 2017

Berbicara tentang pangan

Hai hai hai hari ini tepat hari pangan sedunia.
Aku sebagai lulusan institut pertanian merasa perlu mengucapkan
"Selamat Hari Pangan Sedunia Everyone".

Dalam rangka memperingati hari pangan sedunia,
aku ingin mengutarakan apa yang ada dipikiranku selama ini tentang pangan,
Berbicara tentang pangan, semua tahu bahwa pangan kebutuhan semua umat manusia.
Maka, permasalahan pangan merupakan permasalahan semua umat manusia.
Mungkin pembuat onar hanya sejumlah jemari manusia. Tapi dampaknya seluruh dunia.
Terdengar berlebihankah? Tidak.

Ketika kestabilan pangan tidak tercipta, akibat adanya mafia dan oknum penyelundupan dan penimbunan bahan pangan.

Oh please stop it.
Kalian para mafia dan oknum yang korupsi, mulailah berempati.
Lihat banyak orang kecil mengais rejeki, dari pangan yang mereka jual kesana kemari.
Aku melihat sendiri, bapak tua berjalan kaki di siang hari, menjual jagung rebus yang dipikul sendiri.
Sedang kalian para mafia dan oknum yang korupsi, masih sibuk mengatur strategi, untuk kantong pribadi.
Ketika para pedagang di pasar menanti, dagangan laris dibeli, dan petani dalam negeri sejahtera setiap hari.